Kamis, 01 Desember 2016

Stunting atau Gizi Buruk

Stunting pada anak – Stunting merupakan keadaan dimana tubuh yang sangat pendek dibandingkan dengan anak – anak lain pada usianya. Menuru data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) hal ini terjadi pada kurang lebih 178 juta anak balita. Stunted merupakan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umurnya, yang ditandai dengan lambatnya proses pertumbuhan sehingga mengalami kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal.
Faktor yang menyebabkan stunting pada anak yaitu kekurangan gizi, mengalami penyakit yang kronis, faktor gizi ibu pada sebelum dan saat hamil merupakan penyebab tidak langsung terhadap tumbuh kembang janin yang mengakibatkan janin mengalami intrauterine growth retardation.
Selain itu Anda harus mengenali ciri – ciri stunting pada anak yang bisa diketahui seperti berikut. Anak yang mengalami stunted pada usia 8 hingga 10 tahun akan merasa tertekan, menjadi lebih pendiam dan tidak berani melakukan kontak mata dengan orang – orang disekitarnya. Pada anak yang mengalami stunting terlihat pada performanya yang kurang baik, daya ingatnya lemah, tes perhatian yang buruk namun masih baik dalam kecepatan gerak. Pertumbuhan dan tanda pubertasnya lambat, wajah lebih muda dari umurnya.

Kenali ISPA

Kenali Penyakit ISPA

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) disebabkan oleh virus. Secara garis besar, ISPA dibedakan menjadi common cold (pemicunya adalah virus rhinovirus, respiratory syncytial virus, adenovirus, dll) dan influenza (dipicu oleh virus influenza dengan berbagai tipe). Penyakit ini sering muncul pada musim pancaroba akibat sirkulasi virus di udara yang meningkat. Selain itu, perubahan udara dari panas ke dingin seringkali memperlemah daya tahan tubuh anak. Akibatnya, mereka pun menjadi lebih rentan terhadap penyakit ini.

 Gejala: Bervariasi, mulai dari demam, nyeri tenggorokan, pilek dan hidung mampet, batuk kering dan gatal, batuk berdahak, dan bahkan bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia (radang paru) dengan gejala sesak napas. Umumnya, influenza dikaitkan dengan gejala yang lebih berat dan lama, serta lebih sering menimbulkan komplikasi pneumonia. Pada bayi, bisa pula timbul bronkhiolitis (radang di saluran pernapasan halus di paru-paru) dengan gejala sesak dan napas berbunyi ngik-ngik. Selain itu, bisa pula terjadi laryngitis (peradangan pada daerah laring atau dekat pita suara) yang menimbulkan croup dengan gejala sesak saat menarik napas dan batuk menggonggong (barking cough).

makalah skrining

TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI
SKRINING
Disusun Oleh:
Adah Ittikhadah         I1A015004
Indriani                       I1A015014
Erina Indriani              I1A015036
Silvy Amalia               I1A015040
Devita Anggraeni        I1A015104
Ramon Buano             I1A015126
Arya Adhi N               G1B013000
Dosen Pengampu:
Devi Octaviana S.KM, M.Si.




KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PERGURUAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2016
I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berbagai jenis penyakit baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular sekarang banyak bermunculan. Banyak pula penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup sehingga timbul penyakit baru. Beberapa penyakit bersifat kronis sehingga dapat membahayakan kesehatan dan mempunyai beberapa kaitan dengan mental emosionalnya.
Saat ini perhatian penyakit tidak menular semakin meningkat karena frekuensi kejadiannya pada masyarakat semakin tinggi. Dari sepuluh penyebab utama kematian, dua diantaranya adalah penyakit tidak menular. Keadaan ini terjadi di dunia, baik di Negara maju maupun Negara dengan ekonomi rendah dan menengah (Putri dan Isfandiari, 2013).
Penyakit kronis merupakan penyakit yang berkepanjangan dan jarang sembuh sempurna. Walaupun tidak semua penyakit mengancam jiwa, tetapi akan menjadi beban ekonomi bagi individu, keluarga, dan komunitas secara keseluruhan. Penyakit kronis akan menyebabkan masalah medis, sosial dan psikologis yang akan membatasi aktifitas manusia sehingga akan menyebabkan penurunan quality of life (Yenny dan Herwana, 2006).
Hasil penelitian menunjukkan sebasar 11,58% penduduk usia 15 tahun di Indonesia tahun 2007 mengalami gangguan mental emosional. Selain itu, sebasar 3,5% penduduk Indonesia mengalami paling tidak satu dari enam penyakit kronis berikut yaitu TBC, DM, tumor atau keganasan, stroke, hepatitis atau lever, dan jantung. Penyakit jantung, stroke, kanker dan penyakit kronis lainnya sering dianggap menjadi masalah kesehatan masyarakat hanya untuk Negara-negara berpenghasilan tinggi, padahal sebetulnya tidak. Pada kenyataannya, hanya 20% dari kematian penyakit kronis terjadi di Negara berpenghasilan tinggi, sementara 80% terjadi di Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menjadi sebagian besar keberadaan penduduk dunia (Widakdo dan Besral, 2013).
Menurut Harlan (2006), skrining untuk pengendalian penyakit adalah pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit (as likely or unlikely to have disease).
Skrining merupakan salah satu komponen pelayanan kesehatan yang modern. Alasannya adalah untuk mendeteksi penyakit pada awal asymptomatic individu dan untuk mengurangi angka morbiditas (Saquib, Saquib, dan Loannidis, 2015).
Dengan adanya kegiatan skrining, masyarakat dapat mengetahui terlebih dahulu apakah ia terkena suatu penyakit atau tidak melalui beberapa proses. Sehingga masyarakat dengan mudah melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit tersebut.
Adapun pengertian, tujuan, syarat, macam dan validitas maupun reliabilitas skrining akan dijelaskan dalam makalah ini yang berjudul “SKRINING”

B.     Tujuan
Tujuan pembuatan makalah skrining ini adalah:
1.      Mengetahui apa itu skrining.
2.      Mengetahui tujuan diadakannya skrining.
3.      Mengetahui syarat agar skrining dapat dilakukan dengan baik.
4.      Mengatahui macam-macam skrining.
5.      Mengetahui validitas dan reliabilitas dari skrining.




II.    PEMBAHASAN

A.    Pengertian Skrining
Dibawah ini dijelaskan beberapa pengertian skrinning menurut ahli.
Menurut Harlan (2006), skrining untuk pengendalian penyakit adalah pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit (as likely or unlikely to have disease).
Contoh uji skrining antara lain pemeriksaan Rontgen, pemeriksaan sitologi, dan pemeriksaan tekanan darah. Uji skrining tidaklah bersifat diagnostik. Orang-orang dengan temuan positif atau mencurigakan harus dirujuk ke dokter untuk diagnosis dan pengobatannya (Harlan, 2006).
Secara garis besar, skrining adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita (Amiruddin dkk, 2011).
Amiruddin, dkk (2011), mengemukakan pula mengenai cara untuk mendeteksi tanda dan gejala penyakit secara dini dan menemukan penyakit sebelum menimbulkan gejala dapat dilakukan dengan cara berikut:
1.      Deteksi tanda dan gejala dini
Dalam hal mendeteksi tanda dan gejala dini diperlukan pengetahuan tentang tanda dan gejala tersebut yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Dengan cara demikian, timbulnya kasus baru dapat segera diketahui dan diberikan pengobatan. Biasaya penderita datang untuk mencari pengobatan setelah penyakit menimbulkan gejala dan mengganggu kegiatan sehari-hari yang berarti penyakit telah berada dalam stadium lanjut. Hal ini disebabkan ketidaktahuan dan ketidakmampuan penderita.
2.      Penemuan kasus sebelum menimbulkan gejala
Penemuan kasus ini dapat dilakukan dengan mengadakan skrining terhadap orang-orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit. Diagnosis dan pengobatan penyakit yangdiperoleh dari penderita yang datang untuk mencari pengobatan setelah timbul gejala relatif sedikit sekali dibandingkan dengan penderita tanpa gejala.