MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI
SKRINING
Disusun Oleh:
Adah Ittikhadah I1A015004
Indriani I1A015014
Erina Indriani I1A015036
Silvy Amalia I1A015040
Devita Anggraeni I1A015104
Ramon Buano I1A015126
Arya
Adhi N G1B013000
Dosen Pengampu:
Devi Octaviana S.KM, M.Si.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN
PERGURUAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2016
I.
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Berbagai jenis penyakit baik penyakit menular maupun
penyakit tidak menular sekarang banyak bermunculan. Banyak pula penyakit yang
disebabkan oleh gaya hidup sehingga timbul penyakit baru. Beberapa penyakit
bersifat kronis sehingga dapat membahayakan kesehatan dan mempunyai beberapa
kaitan dengan mental emosionalnya.
Saat ini perhatian penyakit tidak menular semakin
meningkat karena frekuensi kejadiannya pada masyarakat semakin tinggi. Dari
sepuluh penyebab utama kematian, dua diantaranya adalah penyakit tidak menular.
Keadaan ini terjadi di dunia, baik di Negara maju maupun Negara dengan ekonomi
rendah dan menengah (Putri dan Isfandiari, 2013).
Penyakit kronis
merupakan penyakit yang berkepanjangan dan jarang sembuh sempurna. Walaupun
tidak semua penyakit mengancam jiwa, tetapi akan menjadi beban ekonomi bagi
individu, keluarga, dan komunitas secara keseluruhan. Penyakit kronis akan
menyebabkan masalah medis, sosial dan psikologis yang akan membatasi aktifitas
manusia sehingga akan menyebabkan penurunan quality of life (Yenny dan Herwana,
2006).
Hasil penelitian
menunjukkan sebasar 11,58% penduduk usia 15 tahun di Indonesia tahun 2007
mengalami gangguan mental emosional. Selain itu, sebasar 3,5% penduduk
Indonesia mengalami paling tidak satu dari enam penyakit kronis berikut yaitu
TBC, DM, tumor atau keganasan, stroke, hepatitis atau lever, dan jantung.
Penyakit jantung, stroke, kanker dan penyakit kronis lainnya sering dianggap
menjadi masalah kesehatan masyarakat hanya untuk Negara-negara berpenghasilan
tinggi, padahal sebetulnya tidak. Pada kenyataannya, hanya 20% dari kematian
penyakit kronis terjadi di Negara berpenghasilan tinggi, sementara 80% terjadi
di Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menjadi sebagian besar
keberadaan penduduk dunia (Widakdo dan Besral, 2013).
Menurut Harlan (2006), skrining untuk pengendalian
penyakit adalah pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan
mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap
penyakit (as likely or unlikely to have
disease).
Skrining merupakan salah satu komponen pelayanan
kesehatan yang modern. Alasannya adalah untuk mendeteksi penyakit pada awal
asymptomatic individu dan untuk mengurangi angka morbiditas (Saquib, Saquib,
dan Loannidis, 2015).
Dengan adanya
kegiatan skrining, masyarakat dapat mengetahui terlebih dahulu apakah ia
terkena suatu penyakit atau tidak melalui beberapa proses. Sehingga masyarakat
dengan mudah melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit tersebut.
Adapun
pengertian, tujuan, syarat, macam dan validitas maupun reliabilitas skrining
akan dijelaskan dalam makalah ini yang berjudul “SKRINING”
B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah skrining
ini adalah:
1.
Mengetahui apa itu skrining.
2.
Mengetahui tujuan diadakannya skrining.
3.
Mengetahui syarat agar skrining dapat
dilakukan dengan baik.
4.
Mengatahui macam-macam skrining.
5.
Mengetahui validitas dan reliabilitas
dari skrining.
II. PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Skrining
Dibawah ini
dijelaskan beberapa pengertian skrinning menurut ahli.
Menurut Harlan (2006), skrining untuk pengendalian
penyakit adalah pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan
mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap
penyakit (as likely or unlikely to have
disease).
Contoh uji skrining antara lain pemeriksaan Rontgen, pemeriksaan sitologi, dan
pemeriksaan tekanan darah. Uji skrining tidaklah bersifat diagnostik. Orang-orang dengan temuan positif atau
mencurigakan harus dirujuk ke dokter untuk diagnosis dan pengobatannya (Harlan,
2006).
Secara garis besar, skrining adalah cara untuk
mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan
atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin
menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita (Amiruddin dkk,
2011).
Amiruddin, dkk (2011), mengemukakan pula mengenai
cara untuk mendeteksi tanda dan gejala penyakit secara dini dan menemukan
penyakit sebelum menimbulkan gejala dapat dilakukan dengan cara berikut:
1.
Deteksi tanda dan gejala dini
Dalam
hal mendeteksi tanda dan gejala dini diperlukan pengetahuan tentang tanda dan
gejala tersebut yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat. Dengan
cara demikian, timbulnya kasus baru dapat segera diketahui dan diberikan
pengobatan. Biasaya penderita datang untuk mencari pengobatan setelah penyakit
menimbulkan gejala dan mengganggu kegiatan sehari-hari yang berarti penyakit
telah berada dalam stadium lanjut. Hal ini disebabkan ketidaktahuan dan
ketidakmampuan penderita.
2.
Penemuan kasus sebelum menimbulkan
gejala
Penemuan
kasus ini dapat dilakukan dengan mengadakan
skrining terhadap orang-orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita
penyakit. Diagnosis dan pengobatan penyakit yangdiperoleh dari penderita yang
datang untuk mencari pengobatan setelah timbul gejala relatif sedikit sekali
dibandingkan dengan penderita tanpa gejala.